- Waterfall Model
Model Waterfall merupakan salah satu metode dalam SDLC yang mempunyai ciri khas pengerjaan setiap fase dalam watefall harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke fase selanjutnya. Artinya fokus terhadap masing-masing fase dapat dilakukan maksimal karena tidak adanya pengerjaan yang sifatnya paralel.

Fase dalam Model Watefall
Tahapan-tahapan dari Model Waterfall adalah sebagai berikut :
- Requirement Analysis
Seluruh kebutuhan software harus bisa didapatkan dalam faseini, termasuk didalamnya kegunaan software yang diharapkan pengguna dan batasan software. Informasi ini biasanya dapat diperoleh melalui wawancara, survey atau diskusi. Informasi tersebut dianalisis untuk mendapatkan dokumentasi kebutuhan pengguna untuk digunakan pada tahap selanjutnya.
- System Design
Tahap ini dilakukan sebelum melakukan coding. Tahap ini bertujuan untuk memberikan gambaran apa yang seharusnya dikerjakan dan bagaimana tampilannya. Tahap ini membantu dalam menspesifikasikan kebutuhan hardware dan sistem serta mendefinisikan arsitekstur sistem secara keseluruhan.
Dalam tahap ini dilakukan pemrograman. Pembuatan software dipecah menjadi modul-modul kecil yang nantinya akan digabungkan dalam tahap berikutnya. Selain itu dalam tahap ini juga dilakukan pemeriksaan terhadap modul yang dibuat, apakah sudah memenuhi fungsi yang diinginkan atau belum.
- Implementation
Dalam tahap ini dilakukan pemrograman. Pembuatan software dipecah menjadi modul-modul kecil yang nantinya akan digabungkan dalam tahap berikutnya. Selain itu dalam tahap ini juga dilakukan pemeriksaan terhadap modul yang dibuat, apakah sudah memenuhi fungsi yang diinginkan atau belum.
- Intgration & Testing
Dalam tahap ini dilakukan penggabungan modul-modul yang sudah dinuat dan dilakukan pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah software yang dibuat telah sesuai dengan desainnya dan masih terdapat kasalahan atau tidak.
- Operation & Maintenance
Ini merupakan tahap terakhir dalam model waterfall. Software yang sudah jadi dijalankan serta dilakukan pemeliharaan. Pemeliharaan termasuk dalam memperbaiki kesalahan yang tidakditemukan pada langkah sebelumnya. Perbaikan implementasi unitsistem dan peningkatan jasa sistem sebagai kebutuhan baru.
- Keuntungan menggunakan metode waterfall
Proses menjadi lebih teratur, urutan proses pengerjaan menggunakan metode ini menjadi lebih teratur dari satu tahap ke tahap yang selanjutnya. Dari sisi user juga lebih menguntungkan karena dapat merencanakan dan menyiapkan seluruh kebutuhan data dan proses yang akan dipperlukan.
Jadwal menjadi lebih menentu, jadwal setiap proses dapat ditentukan secara pasti. Sehingga dapat dilihat jelas target penyelesaian pengembangan program. Dengan adanya urutan yang pasti, dapat dilihat pula progress untuk setiap tahap secara pasti.
- Kelemahan menggunakan metode waterfall
Sifatnya kaku, sehingga susah melakukan perubahan di tengah proses. Jika terdapat kekuarangan proses atau prosedur dari tahan sebelumnya, maka tahapan pengembangan harus dilakukan mulai dari awal. Hal ini akan memakan waktu yang cukup lama. Karena jika proses sebelumnya belum selesai sampai akhir, maka proses selanjutnya juga tidak dapat berjalan. Maka, jika terdapat kekuarangan dalam permintaan user, proses pengembangan harus dimulai dari awal.
Membutuhkan daftar kebutuhan yang lengkap di awal, tapi jarang konsumen bisa memberikan kebutuhan secara lengkap diawal. Untuk menghindari pengulangan tahap dari awal, user harus memberikan seluruhh prosedur, data dan laporan yang diinginkan mulai dari tahap awal pengembangan. Tetapi di banyak kondisi, user sering melakukan permintaan si tahap pertengahan pengembangan sistem. Dengan metode ini, maka development harus dilakukan mulai dari tahap awal. Karena development disesuaikan dengan design hassil user pada saat tahap awal pengembangan.
pengertian prototype
Prototyping adalah pengembangan yang cepat dan pengujian terhadap model kerja (prototipe) dari aplikasi baru melalui proses interaksi dan berulang-ulang yang biasa digunakan ahli sistem informasi dan ahli bisnis. ... Model ini selanjutnya diperbaiki secara terus menerus sampai sesuai dengan kebutuhan user.
Fase dalam Model Watefall
Prototyping adalah pengembangan yang cepat dan pengujian terhadap model kerja (prototipe) dari aplikasi baru melalui proses interaksi dan berulang-ulang yang biasa digunakan ahli sistem informasi dan ahli bisnis. ... Model ini selanjutnya diperbaiki secara terus menerus sampai sesuai dengan kebutuhan user.
- Model Prototyping
Sebuah prototipe adalah bagian dari produk yang mengekspresikan logika maupun
fisik antarmuka eksternal yang ditampilkan. Konsumen potensial menggunakan
prototipe dan menyediakan masukan untuk tim pengembang sebelum pengembangan
skal besar dimulai. Melihat dan mempercayai menjadi hal yang diharapkan untuk
dicapai dalam prototipe. Dengan menggunakan pendekatan ini, konsumen dan tim
pengembang dapat mengklarifikasi kebutuhan dan interpretasi mereka.
Prototyping perangkat lunak (software prototyping) atau siklus hidup
menggunakan protoyping (life cycle using prototyping) adalah salah satu metode
siklus hidup sistem yang didasarkan pada konsep model bekerja (working model).
Tujuannya adalah mengembangkan model menjadi sistem final. Artinya sistem akan
dikembangkan lebih cepat dari pada metode tradisional dan biayanya menjadi
lebih rendah. Ada banyak cara untuk memprotoyping, begitu pula dengan
penggunaannya. Ciri khas dari metodologi ini adalah pengembang sistem (system
developer), klien, dan pengguna dapat melihat dan melakukan eksperimen dengan
bagian dari sistem komputer dari sejak awal proses pengembangan.
Dengan prototype yang terbuka, model sebuah sistem (atau bagiannya)
dikembangkan secara cepat dan dipoles dalam diskusi yang berkali-kali dengan
klien. Model tersebut menunjukkan kepada klien apa yang akan dilakukan oleh
sistem, namun tidak didukung oleh rancangan desain struktur yang mendetil. Pada
saat perancang dan klien melakukan percobaan dengan berbagai ide pada suatu
model dan setuju dengan desain final, rancangan yang sesungguhnya dibuat tepat
seperti model dengan kualitas yang lebih bagus.
Protoyping membantu dalam menemukan kebutuhan di tahap awal
pengembangan,terutama jika klien tidak yakin dimana masalah berasal. Selain itu
protoyping juga berguna sebagai alat untuk mendesain dan memperbaiki user
interface – bagaimana sistem akan terlihat oleh orang-orang yang
menggunakannya.
Salah satu hal terpenting mengenai metodologi ini, cepat atau lambat akan
disingkirkan dan hanya digunakan untuk tujuan dokumentasi. Kelemahannya adalah
metode ini tidak memiliki analisa dan rancangan yang mendalam yang merupakan
hal penting bagi sistem yang sudah kokoh, terpercaya dan bisa dikelola. Jika
seorang pengembang memutuskan untuk membangun jenis prototipe ini, penting
untuk memutuskan kapan dan bagaimana ia akan disingkirkan dan selanjutnya
menjamin bahwa hal tersebut telah diselesaikan tepat pada waktunya.Tahapan-Tahapan
Prototyping dan KelebihannyaTahapan-tahapan
dalam Prototyping adalah sebagai berikut:1.
Pengumpulan kebutuhan
Pelanggan dan pengembang bersama-sama mendefinisikan format seluruh perangkat
lunak, mengidentifikasikan semua kebutuhan, dan garis besar sistem yang akan
dibuat.2.
Membangun prototyping
Membangun prototyping dengan membuat perancangan sementara yang berfokus pada
penyajian kepada pelanggan (misalnya dengan membuat input dan format output).3.
Evaluasi protoptyping
Evaluasi ini dilakukan oleh pelanggan apakah prototyping yang sudah dibangun
sudah sesuai dengan keinginann pelanggan. Jika sudah sesuai maka langkah 4 akan
diambil. Jika tidak prototyping direvisi dengan mengulang langkah 1, 2 , dan 3.4.
Mengkodekan sistem
Dalam tahap ini prototyping yang sudah di sepakati diterjemahkan ke dalam
bahasa pemrograman yang sesuai.5.
Menguji sistem
Setelah sistem sudah menjadi suatu perangkat lunak yang siap pakai, harus dites
dahulu sebelum digunakan. Pengujian ini dilakukan dengan White Box, Black Box,
Basis Path, pengujian arsitektur dan lain-lain.6.
Evaluasi Sistem
Pelanggan mengevaluasi apakah sistem yang sudah jadi sudah sesuai dengan yang
diharapkan. Jika ya, langkah 7 dilakukan; jika tidak, ulangi langkah 4 dan 5.7.
Menggunakan sistem
Perangkat lunak yang telah diuji dan diterima pelanggan siap untuk digunakan.

Model pengembangan ini (Prototyping Model) memiliki beberapa kelebihan, diantaranya :§
Adanya komunikasi yang baik antara
pengembang dan pelanggan
§
Pengembang dapat bekerja lebih baik dalam
menentukan kebutuhan pelanggan
§
Pelanggan berperan aktif dalam
pengembangan system
§
Lebih menghemat waktu dalam pengembangan
system
§
Penerapan menjadi lebih mudah karena
pemakai mengetahui apa yang diharapkannya
§
membuat klien mendapat gambaran awal
dari prototype
Membantu
mendapatkan kebutuhan detil lebih baikImplementasi
Prototyping Model
Metode prototyping sebagai suatu paradigma baru dalam pengembangan sistem
informasi manajemen, tidak hanya sekedar suatu efolusi dari metode pengembangan
sistem informasi yang sudah ada, tetapi sekaligus merupakan refolusi dalam pengembangan
sistem informasi manajemen. Metode ini dikjatakan refolusi karena merubah
proses pengembangan sistem informasi yang lama (SDLC).
Menurut literatur, yang dimaksud dengan prototipe (prototype) adalah ”model
pertama”, yang sering digunakan oleh perusahaan industri yang memproduksi
barang secara masa. Tetapi dalam kaitannya dengan sistem informasi definisi
kedua dari Webster yang menyebutkan bahwa ”prototype is an individual that
exhibits the essential peatures of later type”, yang bila diaplikasikan dalam
pengembangan sistem informasi manajemen dapat berarti bahwa Prototipe tersebut
adalah sistem informasi yang menggambarkan hal-hal penting dari sistem
informasi yang akan datang. Prototipe sistem informasi bukanlah merupakan
sesuatu yang lengkap, tetapi sesuatu yang harus dimodifikasi kembali,
dikembangkan, ditambahkan atau digabungkan dengan sistem informasi yang lain
bila perlu.
Dalam beberapa hal pengembangan software berbeda dengan produk-produk
manufaktur, setiap tahap atau fase pengembangan sistem informasi merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh proses yang harus dilakukan. Proses
ini umumnya hanya untuk satu produk dan karakteristik dari produk tersebut
tidak dapat ditentukan secara pasti seperti produk manufaktur, sehingga
penggunaan ”model pertama” bagi pengembangan software tidaklah tepat. Istilah
prototyping dalam hubungannya dengan pengembangan software sistem informasi
manajemen lebih merupakan suatu proses bukan prototipe sebagai suatu produk.
Sebagai contoh, pembuat mobil dapat mengembangkan sebuah purwarupa yang dapat
digunakan dalam lintasan pengujuan khusus dan kemudian ditampilkan dalam
showroom. Informasi yang diperoleh dari perlakuan seperti itu dapat digunakan
untuk meningkatkan desain sebelum implementasi/produksi dilakukan secara
massal.
- model spiral
Proses model yang lain, yang cukup populer adalah
Spiral Model. Model ini juga cukup baru ditemukan, yaitu pada sekitar tahun
1988 oleh Barry Boehm pada artikel A
Spiral Model of Software Development and Enhancement. Spiral model
adalah salah satu bentuk evolusi yang menggunakan metode iterasi natural yang
dimiliki oleh model prototyping dan digabungkan dengan aspek sistimatis yang
dikembangkan dengan model waterfall. Tahap desain umumnya digunakan pada model
Waterfall, sedangkan tahap prototyping adalah suatu model dimana software
dibuat prototype (incomplete model), “blue-print”-nya, atau contohnya dan ditunjukkan ke
user / customer untuk mendapatkan feedback-nya. Jika
prototype-nya sudah sesuai dengan keinginan user / customer, maka proses SE
dilanjutkan dengan membuat produk sesungguhnya dengan menambah dan memperbaiki
kekurangan dari prototype tadi.
Model
ini juga mengkombinasikan top-down design dengan bottom-up design, dimana
top-down design menetapkan sistem global terlebih dahulu, baru diteruskan
dengan detail sistemnya, sedangkan bottom-up design berlaku sebaliknya.
Top-down design biasanya diaplikasikan pada model waterfall dengan
sequential-nya, sedangkan bottom-up design biasanya diaplikasikan pada model
prototyping dengan feedback yang diperoleh. Dari 2 kombinasi tersebut, yaitu
kombinasi antara desain dan prototyping, serta top-down dan bottom-up, yang
juga diaplikasikan pada model waterfall dan prototype, maka spiral model ini
dapat dikatakan sebagai model proses hasil kombinasi dari kedua model tersebut.
Oleh karena itu, model ini biasanya dipakai untuk pembuatan software dengan
skala besar dan kompleks.Spiral
model dibagi menjadi beberapa framework aktivitas, yang disebut dengan task
regions. Kebanyakan aktivitas2 tersebut dibagi antara 3 sampai 6 aktivitas.
Berikut adalah aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam spiral model: Customer communication.
Aktivitas yang dibutuhkan untuk membangun komunikasi yang efektif antara
developer dengan user / customer terutama mengenai kebutuhan dari customer.Planning.
Aktivitas perencanaan ini dibutuhkan untuk menentukan sumberdaya, perkiraan
waktu pengerjaan, dan informasi lainnya yang dibutuhkan untuk pengembangan
software.Analysis risk.
Aktivitas analisis resiko ini dijalankan untuk menganalisis baik resiko secara
teknikal maupun secara manajerial. Tahap inilah yang mungkin tidak ada pada
model proses yang juga menggunakan metode iterasi, tetapi hanya dilakukan pada
spiral model.Engineering.
Aktivitas yang dibutuhkan untuk membangun 1 atau lebih representasi dari
aplikasi secara teknikal.Construction & Release.
Aktivitas yang dibutuhkan untuk develop software, testing, instalasi dan
penyediaan user / costumer support seperti training penggunaan software serta
dokumentasi seperti buku manual penggunaan software.Customer evaluation.
Aktivitas yang dibutuhkan untuk mendapatkan feedback dari user / customer
berdasarkan evaluasi mereka selama representasi software pada tahap engineering
maupun pada implementasi selama instalasi software pada tahap construction and
release.

Berikut
adalah gambar dari spiral model secara umum :
Satu lingkaran dari bentuk spiral pada spiral model dibagi menjadi beberapa
daerah yang disebut dengan region. Region tersebut dibagi sesuai dengan jumlah
aktivitas yang dilakukan dalam spiral model. Tentunya lingkup tugas untuk
project yang kecil dan besar berbeda. Untuk project yang besar, setiap region
berisi sejumlah tugas-tugas yang tentunya lebih banyak dan kompleks daripada
untuk project yang kecil. SE berjalan dari inti spiral berjalan mengitari
sirkuit per sirkuit. Sebagai contoh untuk sirkuit pertama dilakukan untuk
pembangunan dari spesifikasi dari software dengan mencari kebutuhan dari
customer. Untuk sirkuit pertama harus menjalani semua aktivitas yang
didefinisikan. Setelah 1 sirkuit terlewati lanjut ke tugas selanjutnya misalnya
membangun prototype. Tugas ini juga harus mengitari 1 sirkuit dan begitu terus
selanjutnya sampai project selesai.
Tidak seperti model-model konvesional dimana setelah SE selesai, maka model
tersebut juga dianggap selesai. Akan tetapi hal ini tidak berlaku untuk spiral
model, dimana model ini dapat digunakan kembali sepanjang umur dari software
tersebut. Pada umumnya, spiral model digunakan untuk beberapa project seperti
Concept Development Project (proyek pengembangan konsep), New Product
Development Project (proyek pengembangan produk baru), Product Enhancement
Project (proyek peningkatan produk), dan Product Maintenance Project (proyek
pemeliharaan proyek). Keempat project tersebut berjalan berurutan mengitari
sirkuit dari spiral. Sebagai contoh setelah suatu konsep dikembangkan dengan
melalui aktivitas2 dari spiral model, maka dilanjutkan dengan proyek
selanjutnya yaitu pengembangan produk baru, peningkatan produk, sampai
pemeliharaan proyek. Semuanya melalui sirkuit2 dari spiral model.Mengapa spiral model begitu populer? Pendekatan dengan model ini sangat baik
digunakan untuk pengembangan sistem software dengan skala besar. Karena progres
perkembangan dari SE dapat dipantau oleh kedua belah pihak baik developer
maupun user / customer, sehingga mereka dapat mengerti dengan baik mengenai
software ini begitu juga dengan resiko yang mungkin didapat pada setiap
aktivitas yang dilakukan. Selain dari kombinasi 2 buah model yaitu waterfall
dan prototyping, kelebihan dari software ini ada pada analisis resiko yang
dilakukan, sehingga resiko tersebut dapat direduksi sebelum menjadi suatu
masalah besar yang dapat menghambat SE. Model ini membutuhkan konsiderasi
langsung terhadap resiko teknis, sehingga diharapkan dapat mengurangi
terjadinya resiko yang lebih besar. Sebenarnya dengan menggunakan prototype
juga bisa menghindari terjadinya resiko yang muncul, tetapi kelebihan dari
model ini yaitu dilakukannya proses prototyping untuk setiap tahap dari evolusi
produk secara kontinu. Model ini melakukan tahap2 yang sudah sangat baik didefinisikan
pada model waterfall dan ditambah dengan iterasi yang menyebabkan model ini
lebih realistis untuk merefleksikan dunia nyata. Hal-hal itulah yang menjadi
kelebihan menggunakan spiral model.
Meskipun banyak kelebihan tetapi tentu masih ada kekurangannya. Kekurangannya
ada pada masalah pemikiran user / customer dimana mereka pada umumnya tidak
yakin bahwa pendekatan evolusioner ini dapat terus dalam ambang kontrol yang
bagus. Dibutuhkan kombinasi kemampuan manajerial dan teknis tersendiri untuk mengontrol
model ini sehingga dengan sendirinya dapat meyakinkan user / customer tersebut.
Mengenai analisis resiko yang terdapat pada model ini dibutuhkan kemampuan
expert tersendiri agar tahap ini dapat berjalan dengan baik. Dibutuhkan
kemampuan manajemen yang tinggi untuk melakukan perkiraan resiko, karena jika
ada resiko yang luput untuk dievaluasi, dikhawatirkan dapat muncul di kemudian
hari yang dapat menghambat proses SE. Kesimpulannya, model ini sebetulnya cukup
populer, tetapi masih kalah populer dibandingkan model2 yang lama yaitu
waterfall akibat belum banyak
penggunaan model ini yang dapat meyakinkan pemikiran user / customer.
Menurut saya, spiral model ini merupakan model proses yang paling cocok
digunakan setelah ada tahap evolusioner pada model proses. Saya mengatakan itu
berdasarkan kemampuan spiral model yang menggabungkan kemampuan dari waterfall
model dan prototyping dimana kedua model ini merupakan model yang sangat
populer digunakan. Sangat populer tentu karena menghasikan sesuatu yang pasti
hasilnya baik. Dua hal baik digabungkan seharusnya bisa menjadi sesuatu hal
yang sangat baik. Waterfall model dengan
tahapan2 standarnya yang sudah saya paparkan pada tulisan yang lain ditambah
dengan prototype untuk memuaskan kebutuhan user / customer menjadi kombinasi
untuk memuaskan konsumen secara teknis dengan sangat baik. Ada tahapan yang
belum terdapat pada model yang lain yaitu analisis resiko yang menjadi suatu
keunggulan tersendiri dari spiral model ini. Analisis resiko menjadikan model
ini unggul secara manajerial maupun teknis, karena resiko yang dianalisis
mencakup dalam 2 scope tersebut. Mungkin untuk project dengan skala kecil,
analisis resiko bisa membuang waktu, meskipun penting juga untuk dilakukan.
Akan tetapi untuk project dengan skala besar, analisis resiko harus, harus, dan
harus dilakukan. Jika muncul masalah pada suatu tahapan tentu akan membuang
waktu lebih banyak. Jadi, sudah sewajarnya ketika akan menerapkan SE dengan
model ini, tentu harus ada alokasi waktu tersendiri khusus untuk melakukan
tahapan analisis resiko. Pada akhirnya, meskipun ada beberapa kelemahan, akan
tetapi spiral model ini cocok digunakan untuk pengembangan software di jaman
sekarang ini.
- rappid application dve lopmen
Rapid
application development (RAD) atau rapid prototyping adalah model
proses pembangunan perangkat lunak yang tergolong dalam teknik incremental (bertingkat).
RAD menekankan pada siklus pembangunan pendek, singkat, dan cepat. Waktu yang
singkat adalah batasan yang penting untuk model ini. Rapid application
development menggunakan metode iteratif (berulang) dalam mengembangkan sistem
di mana working model (model bekerja) sistem dikonstruksikan di awal tahap
pengembangan dengan tujuan menetapkan kebutuhan (requirement) user dan
selanjutnya disingkirkan. Working model
digunakan kadang-kadang saja sebagai basis desain dan implementasi sistem final.
Beberapa hal (kelebihan dan
kekurangan) yang perlu diperhatikan dalam implementasi pengembangan menggunakan
model RAD:
1.
Model RAD memerlukan sumber daya yang cukup besar, terutama untuk proyek
dengan skala besar.
2.
Model ini cocok untuk proyek dengan skala besar.
3.
Model RAD memerlukan komitmen yang kuat antara pengembang dan pemesssan,
bahkan keduanya bisa tergabung dalam 1 tim
4.
kinerja dari perangkat lunak yang dihasilkan dapat menjadi masalah manakala
kebutuhan-kebutuhan diawal proses tidak dapat dimodulkan, sehingga pendekatan
dengan model ini kurang bagus.
5.
sistem yang tidak bisa dimodularisasi tidak cocok untuk model ini.
6.
penghalusan dan penggabungan dari beberapa tim di akhir proses sangat
diperlukan dan ini memerlukan kerja keras.
7.
proyek bisa gagal karena waktu yang disepakati tidak dipenuhi
8.
risiko teknis yang tinggi juga kurang cocok untuk model ini.
evulution deve lopmen
yang dimulai pada tingkat dan kemajuan sistem pada seluruh tahapan analisis, desain , kode, pengujian, dan pemeliharaan.
REPORT THIS AD
Berikut Merupakan Tahapan – tahapan Pengembangan Model Sekuensial Linear / Waterfall Development Model :
- Rekayasa dan pemodelan sistem/informasi
Langkah pertama dimulai dengan membangun keseluruhan elemen sistem dan memilah bagian-bagian mana yang akan dijadikan bahan pengembangan perangkat lunak, dengan memperhatikan hubungannya dengan Hardware, User, dan Database.
- Analisis kebutuhan perangkat lunak
Pada proses ini, dilakukan penganalisaan dan pengumpulan kebutuhan sistem yang meliputi Domain informasi, fungsi yang dibutuhkan unjuk kerja/performansi dan antarmuka. Hasil penganalisaan dan pengumpulan tersebut didokumentasikan dan diperlihatkan kembali kepada pelanggan.
- Desain
Pada proses Desain, dilakukan penerjemahan syarat kebutuhan sebuah perancangan perangkat lunak yang dapat diperkirakan sebelum dibuatnya proses pengkodean (coding). Proses ini berfokus pada struktur data, arsitektur perangkat lunak, representasi interface, dan detail algoritma prosedural.
- Pengkodean
Pengkodean merupakan proses menterjemahkan perancangan desain ke bentuk yang dapat dimengerti oleh mesin, dengan menggunakan bahasa pemrograman.
- Pengujian
Setelah Proses Pengkodean selesai, dilanjutkan dengan proses pengujian pada program perangkat lunak, baik Pengujian logika internal, maupun Pengujian eksternal fungsional untuk memeriksa segala kemungkinan terjadinya kesalahan dan memeriksa apakah hasil dari pengembangan tersebut sesuai dengan hasil yang diinginkan.
- Pemeliharaan
REPORT THIS AD
Proses Pemeliharaan erupakan bagian paling akhir dari siklus pengembangan dan dilakukan setelah perangkat lunak dipergunakan. Kegiatan yang dilakukan pada proses pemeliharaan antara lain :
- Corrective Maintenance : yaitu mengoreksi apabila terdapat kesalahan pada perangkat lunak, yang baru terdeteksi pada saat perangkat lunak dipergunakan.
- Adaptive Maintenance : yaitu dilakukannya penyesuaian/perubahan sesuai dengan lingkungan yang baru, misalnya hardware, periperal, sistem operasi baru, atau sebagai tuntutan atas perkembangan sistem komputer, misalnya penambahan driver, dll.
- Perfektive Maintenance : Bila perangkat lunak sukses dipergunakan oleh pemakai. Pemeliharaan ditujukan untuk menambah kemampuannya seperti memberikan fungsi-fungsi tambahan, peningkatan kinerja dan sebagainya.
- Contoh Penerapan dari Pengembangan Model Sekuensial Linear / Waterfall Development Model
Contoh dari penerapan model pengembangan ini adalah pembuatan program pendaftaran online ke suatu Instansi Pendidikan. Program ini akan sangat membantu dalam proses pendaftaran, karena dapat meng-efektifkan waktu serta pendaftar tidak perlu repot-repot langsung mendatangi Instansi Pendidikan. Teknisnya adalah sebagai berikut :
- Sistem program untuk pendaftaran dibuat menggunakan bahasa pemrograman PHP, dengan Sistem Database yang dibuat menggunakan MySQL, dan diterapkan (diaplikasikan) pada PC (personal computer) dengan sistem operasi berbasis Microsoft Windows, Linux, dan sebagainya.
- Setelah program selesai dibuat dan kemudian dipergunakan oleh user, programmer akan memelihara serta menambah atau menyesuaikan program dengan kebutuhan serta kondisi user.
- Kelebihan Model Sekuensial Linear / Waterfall Development Model :
- Tahapan proses pengembangannya tetap (pasti), mudah diaplikasikan, dan prosesnya teratur.
- Cocok digunakan untuk produk software/program yang sudah jelas kebutuhannya di awal, sehingga minim kesalahannya.
- Software yang dikembangkan dengan metode ini biasanya menghasilkan kualitas yang baik.
- Documen pengembangan sistem sangat terorganisir, karena setiap fase harus terselesaikan dengan lengkap sebelum melangkah ke fase berikutnya.
- Kekurangan Model Sekuensial Linear / Waterfall Development Model :
- Proyek yang sebenarnya jarang mengikuti alur sekuensial seperti diusulkan, sehingga perubahan yang terjadi dapat menyebabkan hasil yang sudah didapatkan tim pengembang harus diubah kembali/iterasi sering menyebabkan masalah baru.
- Terjadinya pembagian proyek menjadi tahap-tahap yang tidak fleksibel, karena komitmen harus dilakukan pada tahap awal proses.
- Sulit untuk mengalami perubahan kebutuhan yang diinginkan oleh customer/pelanggan.
- Pelanggan harus sabar untuk menanti produk selesai, karena dikerjakan tahap per tahap, dan proses pengerjaanya akan berlanjut ke setiap tahapan bila tahap sebelumnya sudah benar-benar selesai.
- Perubahan ditengah-tengah pengerjaan produk akan membuat bingung tim pengembang yang sedang membuat produk.
- Adanya waktu kosong (menganggur) bagi pengembang, karena harus menunggu anggota tim proyek lainnya menuntaskan pekerjaannya.
- Model Prototyping
Sebuah prototipe adalah bagian dari produk yang mengekspresikan logika maupun fisik antarmuka eksternal yang ditampilkan. Konsumen potensial menggunakan prototipe dan menyediakan masukan untuk tim pengembang sebelum pengembangan skal besar dimulai. Melihat dan mempercayai menjadi hal yang diharapkan untuk dicapai dalam prototipe. Dengan menggunakan pendekatan ini, konsumen dan tim pengembang dapat mengklarifikasi kebutuhan dan interpretasi mereka. Prototyping perangkat lunak (software prototyping) atau siklus hidup menggunakan protoyping (life cycle using prototyping) adalah salah satu metode siklus hidup sistem yang didasarkan pada konsep model bekerja (working model). Tujuannya adalah mengembangkan model menjadi sistem final. Artinya sistem akan dikembangkan lebih cepat dari pada metode tradisional dan biayanya menjadi lebih rendah. Ada banyak cara untuk memprotoyping, begitu pula dengan penggunaannya. Ciri khas dari metodologi ini adalah pengembang sistem (system developer), klien, dan pengguna dapat melihat dan melakukan eksperimen dengan bagian dari sistem komputer dari sejak awal proses pengembangan. Dengan prototype yang terbuka, model sebuah sistem (atau bagiannya) dikembangkan secara cepat dan dipoles dalam diskusi yang berkali-kali dengan klien. Model tersebut menunjukkan kepada klien apa yang akan dilakukan oleh sistem, namun tidak didukung oleh rancangan desain struktur yang mendetil. Pada saat perancang dan klien melakukan percobaan dengan berbagai ide pada suatu model dan setuju dengan desain final, rancangan yang sesungguhnya dibuat tepat seperti model dengan kualitas yang lebih bagus. Protoyping membantu dalam menemukan kebutuhan di tahap awal pengembangan,terutama jika klien tidak yakin dimana masalah berasal. Selain itu protoyping juga berguna sebagai alat untuk mendesain dan memperbaiki user interface – bagaimana sistem akan terlihat oleh orang-orang yang menggunakannya. Salah satu hal terpenting mengenai metodologi ini, cepat atau lambat akan disingkirkan dan hanya digunakan untuk tujuan dokumentasi. Kelemahannya adalah metode ini tidak memiliki analisa dan rancangan yang mendalam yang merupakan hal penting bagi sistem yang sudah kokoh, terpercaya dan bisa dikelola. Jika seorang pengembang memutuskan untuk membangun jenis prototipe ini, penting untuk memutuskan kapan dan bagaimana ia akan disingkirkan dan selanjutnya menjamin bahwa hal tersebut telah diselesaikan tepat pada waktunya.Tahapan-Tahapan Prototyping dan KelebihannyaTahapan-tahapan dalam Prototyping adalah sebagai berikut:1. Pengumpulan kebutuhan Pelanggan dan pengembang bersama-sama mendefinisikan format seluruh perangkat lunak, mengidentifikasikan semua kebutuhan, dan garis besar sistem yang akan dibuat.2. Membangun prototyping Membangun prototyping dengan membuat perancangan sementara yang berfokus pada penyajian kepada pelanggan (misalnya dengan membuat input dan format output).3. Evaluasi protoptyping Evaluasi ini dilakukan oleh pelanggan apakah prototyping yang sudah dibangun sudah sesuai dengan keinginann pelanggan. Jika sudah sesuai maka langkah 4 akan diambil. Jika tidak prototyping direvisi dengan mengulang langkah 1, 2 , dan 3.4. Mengkodekan sistem Dalam tahap ini prototyping yang sudah di sepakati diterjemahkan ke dalam bahasa pemrograman yang sesuai.5. Menguji sistem Setelah sistem sudah menjadi suatu perangkat lunak yang siap pakai, harus dites dahulu sebelum digunakan. Pengujian ini dilakukan dengan White Box, Black Box, Basis Path, pengujian arsitektur dan lain-lain.6. Evaluasi Sistem Pelanggan mengevaluasi apakah sistem yang sudah jadi sudah sesuai dengan yang diharapkan. Jika ya, langkah 7 dilakukan; jika tidak, ulangi langkah 4 dan 5.7. Menggunakan sistem Perangkat lunak yang telah diuji dan diterima pelanggan siap untuk digunakan.
Model pengembangan ini (Prototyping Model) memiliki beberapa kelebihan, diantaranya :§
Adanya komunikasi yang baik antara
pengembang dan pelanggan
§
Pengembang dapat bekerja lebih baik dalam
menentukan kebutuhan pelanggan
§
Pelanggan berperan aktif dalam
pengembangan system
§
Lebih menghemat waktu dalam pengembangan
system
§
Penerapan menjadi lebih mudah karena
pemakai mengetahui apa yang diharapkannya
§
membuat klien mendapat gambaran awal
dari prototype
Membantu
mendapatkan kebutuhan detil lebih baikImplementasi
Prototyping Model
Metode prototyping sebagai suatu paradigma baru dalam pengembangan sistem
informasi manajemen, tidak hanya sekedar suatu efolusi dari metode pengembangan
sistem informasi yang sudah ada, tetapi sekaligus merupakan refolusi dalam pengembangan
sistem informasi manajemen. Metode ini dikjatakan refolusi karena merubah
proses pengembangan sistem informasi yang lama (SDLC).
Menurut literatur, yang dimaksud dengan prototipe (prototype) adalah ”model
pertama”, yang sering digunakan oleh perusahaan industri yang memproduksi
barang secara masa. Tetapi dalam kaitannya dengan sistem informasi definisi
kedua dari Webster yang menyebutkan bahwa ”prototype is an individual that
exhibits the essential peatures of later type”, yang bila diaplikasikan dalam
pengembangan sistem informasi manajemen dapat berarti bahwa Prototipe tersebut
adalah sistem informasi yang menggambarkan hal-hal penting dari sistem
informasi yang akan datang. Prototipe sistem informasi bukanlah merupakan
sesuatu yang lengkap, tetapi sesuatu yang harus dimodifikasi kembali,
dikembangkan, ditambahkan atau digabungkan dengan sistem informasi yang lain
bila perlu.
Dalam beberapa hal pengembangan software berbeda dengan produk-produk
manufaktur, setiap tahap atau fase pengembangan sistem informasi merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh proses yang harus dilakukan. Proses
ini umumnya hanya untuk satu produk dan karakteristik dari produk tersebut
tidak dapat ditentukan secara pasti seperti produk manufaktur, sehingga
penggunaan ”model pertama” bagi pengembangan software tidaklah tepat. Istilah
prototyping dalam hubungannya dengan pengembangan software sistem informasi
manajemen lebih merupakan suatu proses bukan prototipe sebagai suatu produk.
Sebagai contoh, pembuat mobil dapat mengembangkan sebuah purwarupa yang dapat
digunakan dalam lintasan pengujuan khusus dan kemudian ditampilkan dalam
showroom. Informasi yang diperoleh dari perlakuan seperti itu dapat digunakan
untuk meningkatkan desain sebelum implementasi/produksi dilakukan secara
massal.
- model spiral
Proses model yang lain, yang cukup populer adalah
Spiral Model. Model ini juga cukup baru ditemukan, yaitu pada sekitar tahun
1988 oleh Barry Boehm pada artikel A
Spiral Model of Software Development and Enhancement. Spiral model
adalah salah satu bentuk evolusi yang menggunakan metode iterasi natural yang
dimiliki oleh model prototyping dan digabungkan dengan aspek sistimatis yang
dikembangkan dengan model waterfall. Tahap desain umumnya digunakan pada model
Waterfall, sedangkan tahap prototyping adalah suatu model dimana software
dibuat prototype (incomplete model), “blue-print”-nya, atau contohnya dan ditunjukkan ke
user / customer untuk mendapatkan feedback-nya. Jika
prototype-nya sudah sesuai dengan keinginan user / customer, maka proses SE
dilanjutkan dengan membuat produk sesungguhnya dengan menambah dan memperbaiki
kekurangan dari prototype tadi.
Model
ini juga mengkombinasikan top-down design dengan bottom-up design, dimana
top-down design menetapkan sistem global terlebih dahulu, baru diteruskan
dengan detail sistemnya, sedangkan bottom-up design berlaku sebaliknya.
Top-down design biasanya diaplikasikan pada model waterfall dengan
sequential-nya, sedangkan bottom-up design biasanya diaplikasikan pada model
prototyping dengan feedback yang diperoleh. Dari 2 kombinasi tersebut, yaitu
kombinasi antara desain dan prototyping, serta top-down dan bottom-up, yang
juga diaplikasikan pada model waterfall dan prototype, maka spiral model ini
dapat dikatakan sebagai model proses hasil kombinasi dari kedua model tersebut.
Oleh karena itu, model ini biasanya dipakai untuk pembuatan software dengan
skala besar dan kompleks.Spiral
model dibagi menjadi beberapa framework aktivitas, yang disebut dengan task
regions. Kebanyakan aktivitas2 tersebut dibagi antara 3 sampai 6 aktivitas.
Berikut adalah aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam spiral model: Customer communication.
Aktivitas yang dibutuhkan untuk membangun komunikasi yang efektif antara
developer dengan user / customer terutama mengenai kebutuhan dari customer.Planning.
Aktivitas perencanaan ini dibutuhkan untuk menentukan sumberdaya, perkiraan
waktu pengerjaan, dan informasi lainnya yang dibutuhkan untuk pengembangan
software.Analysis risk.
Aktivitas analisis resiko ini dijalankan untuk menganalisis baik resiko secara
teknikal maupun secara manajerial. Tahap inilah yang mungkin tidak ada pada
model proses yang juga menggunakan metode iterasi, tetapi hanya dilakukan pada
spiral model.Engineering.
Aktivitas yang dibutuhkan untuk membangun 1 atau lebih representasi dari
aplikasi secara teknikal.Construction & Release.
Aktivitas yang dibutuhkan untuk develop software, testing, instalasi dan
penyediaan user / costumer support seperti training penggunaan software serta
dokumentasi seperti buku manual penggunaan software.Customer evaluation.
Aktivitas yang dibutuhkan untuk mendapatkan feedback dari user / customer
berdasarkan evaluasi mereka selama representasi software pada tahap engineering
maupun pada implementasi selama instalasi software pada tahap construction and
release.
Berikut adalah gambar dari spiral model secara umum :
Satu lingkaran dari bentuk spiral pada spiral model dibagi menjadi beberapa
daerah yang disebut dengan region. Region tersebut dibagi sesuai dengan jumlah
aktivitas yang dilakukan dalam spiral model. Tentunya lingkup tugas untuk
project yang kecil dan besar berbeda. Untuk project yang besar, setiap region
berisi sejumlah tugas-tugas yang tentunya lebih banyak dan kompleks daripada
untuk project yang kecil. SE berjalan dari inti spiral berjalan mengitari
sirkuit per sirkuit. Sebagai contoh untuk sirkuit pertama dilakukan untuk
pembangunan dari spesifikasi dari software dengan mencari kebutuhan dari
customer. Untuk sirkuit pertama harus menjalani semua aktivitas yang
didefinisikan. Setelah 1 sirkuit terlewati lanjut ke tugas selanjutnya misalnya
membangun prototype. Tugas ini juga harus mengitari 1 sirkuit dan begitu terus
selanjutnya sampai project selesai.
Tidak seperti model-model konvesional dimana setelah SE selesai, maka model
tersebut juga dianggap selesai. Akan tetapi hal ini tidak berlaku untuk spiral
model, dimana model ini dapat digunakan kembali sepanjang umur dari software
tersebut. Pada umumnya, spiral model digunakan untuk beberapa project seperti
Concept Development Project (proyek pengembangan konsep), New Product
Development Project (proyek pengembangan produk baru), Product Enhancement
Project (proyek peningkatan produk), dan Product Maintenance Project (proyek
pemeliharaan proyek). Keempat project tersebut berjalan berurutan mengitari
sirkuit dari spiral. Sebagai contoh setelah suatu konsep dikembangkan dengan
melalui aktivitas2 dari spiral model, maka dilanjutkan dengan proyek
selanjutnya yaitu pengembangan produk baru, peningkatan produk, sampai
pemeliharaan proyek. Semuanya melalui sirkuit2 dari spiral model.Mengapa spiral model begitu populer? Pendekatan dengan model ini sangat baik
digunakan untuk pengembangan sistem software dengan skala besar. Karena progres
perkembangan dari SE dapat dipantau oleh kedua belah pihak baik developer
maupun user / customer, sehingga mereka dapat mengerti dengan baik mengenai
software ini begitu juga dengan resiko yang mungkin didapat pada setiap
aktivitas yang dilakukan. Selain dari kombinasi 2 buah model yaitu waterfall
dan prototyping, kelebihan dari software ini ada pada analisis resiko yang
dilakukan, sehingga resiko tersebut dapat direduksi sebelum menjadi suatu
masalah besar yang dapat menghambat SE. Model ini membutuhkan konsiderasi
langsung terhadap resiko teknis, sehingga diharapkan dapat mengurangi
terjadinya resiko yang lebih besar. Sebenarnya dengan menggunakan prototype
juga bisa menghindari terjadinya resiko yang muncul, tetapi kelebihan dari
model ini yaitu dilakukannya proses prototyping untuk setiap tahap dari evolusi
produk secara kontinu. Model ini melakukan tahap2 yang sudah sangat baik didefinisikan
pada model waterfall dan ditambah dengan iterasi yang menyebabkan model ini
lebih realistis untuk merefleksikan dunia nyata. Hal-hal itulah yang menjadi
kelebihan menggunakan spiral model.
Meskipun banyak kelebihan tetapi tentu masih ada kekurangannya. Kekurangannya
ada pada masalah pemikiran user / customer dimana mereka pada umumnya tidak
yakin bahwa pendekatan evolusioner ini dapat terus dalam ambang kontrol yang
bagus. Dibutuhkan kombinasi kemampuan manajerial dan teknis tersendiri untuk mengontrol
model ini sehingga dengan sendirinya dapat meyakinkan user / customer tersebut.
Mengenai analisis resiko yang terdapat pada model ini dibutuhkan kemampuan
expert tersendiri agar tahap ini dapat berjalan dengan baik. Dibutuhkan
kemampuan manajemen yang tinggi untuk melakukan perkiraan resiko, karena jika
ada resiko yang luput untuk dievaluasi, dikhawatirkan dapat muncul di kemudian
hari yang dapat menghambat proses SE. Kesimpulannya, model ini sebetulnya cukup
populer, tetapi masih kalah populer dibandingkan model2 yang lama yaitu
waterfall akibat belum banyak
penggunaan model ini yang dapat meyakinkan pemikiran user / customer.
Menurut saya, spiral model ini merupakan model proses yang paling cocok
digunakan setelah ada tahap evolusioner pada model proses. Saya mengatakan itu
berdasarkan kemampuan spiral model yang menggabungkan kemampuan dari waterfall
model dan prototyping dimana kedua model ini merupakan model yang sangat
populer digunakan. Sangat populer tentu karena menghasikan sesuatu yang pasti
hasilnya baik. Dua hal baik digabungkan seharusnya bisa menjadi sesuatu hal
yang sangat baik. Waterfall model dengan
tahapan2 standarnya yang sudah saya paparkan pada tulisan yang lain ditambah
dengan prototype untuk memuaskan kebutuhan user / customer menjadi kombinasi
untuk memuaskan konsumen secara teknis dengan sangat baik. Ada tahapan yang
belum terdapat pada model yang lain yaitu analisis resiko yang menjadi suatu
keunggulan tersendiri dari spiral model ini. Analisis resiko menjadikan model
ini unggul secara manajerial maupun teknis, karena resiko yang dianalisis
mencakup dalam 2 scope tersebut. Mungkin untuk project dengan skala kecil,
analisis resiko bisa membuang waktu, meskipun penting juga untuk dilakukan.
Akan tetapi untuk project dengan skala besar, analisis resiko harus, harus, dan
harus dilakukan. Jika muncul masalah pada suatu tahapan tentu akan membuang
waktu lebih banyak. Jadi, sudah sewajarnya ketika akan menerapkan SE dengan
model ini, tentu harus ada alokasi waktu tersendiri khusus untuk melakukan
tahapan analisis resiko. Pada akhirnya, meskipun ada beberapa kelemahan, akan
tetapi spiral model ini cocok digunakan untuk pengembangan software di jaman
sekarang ini.
- rappid application dve lopmen
Rapid application development (RAD) atau rapid prototyping adalah model proses pembangunan perangkat lunak yang tergolong dalam teknik incremental (bertingkat). RAD menekankan pada siklus pembangunan pendek, singkat, dan cepat. Waktu yang singkat adalah batasan yang penting untuk model ini. Rapid application development menggunakan metode iteratif (berulang) dalam mengembangkan sistem di mana working model (model bekerja) sistem dikonstruksikan di awal tahap pengembangan dengan tujuan menetapkan kebutuhan (requirement) user dan selanjutnya disingkirkan. Working model digunakan kadang-kadang saja sebagai basis desain dan implementasi sistem final.
Beberapa hal (kelebihan dan
kekurangan) yang perlu diperhatikan dalam implementasi pengembangan menggunakan
model RAD:
1.
Model RAD memerlukan sumber daya yang cukup besar, terutama untuk proyek
dengan skala besar.
2.
Model ini cocok untuk proyek dengan skala besar.
3.
Model RAD memerlukan komitmen yang kuat antara pengembang dan pemesssan,
bahkan keduanya bisa tergabung dalam 1 tim
4.
kinerja dari perangkat lunak yang dihasilkan dapat menjadi masalah manakala
kebutuhan-kebutuhan diawal proses tidak dapat dimodulkan, sehingga pendekatan
dengan model ini kurang bagus.
5.
sistem yang tidak bisa dimodularisasi tidak cocok untuk model ini.
6.
penghalusan dan penggabungan dari beberapa tim di akhir proses sangat
diperlukan dan ini memerlukan kerja keras.
7.
proyek bisa gagal karena waktu yang disepakati tidak dipenuhi
8.
risiko teknis yang tinggi juga kurang cocok untuk model ini.
evulution deve lopmen
yang dimulai pada tingkat dan kemajuan sistem pada seluruh tahapan analisis, desain , kode, pengujian, dan pemeliharaan.
REPORT THIS AD
Berikut Merupakan Tahapan – tahapan Pengembangan Model Sekuensial Linear / Waterfall Development Model :
- Rekayasa dan pemodelan sistem/informasi
Langkah pertama dimulai dengan membangun keseluruhan elemen sistem dan memilah bagian-bagian mana yang akan dijadikan bahan pengembangan perangkat lunak, dengan memperhatikan hubungannya dengan Hardware, User, dan Database.
- Analisis kebutuhan perangkat lunak
Pada proses ini, dilakukan penganalisaan dan pengumpulan kebutuhan sistem yang meliputi Domain informasi, fungsi yang dibutuhkan unjuk kerja/performansi dan antarmuka. Hasil penganalisaan dan pengumpulan tersebut didokumentasikan dan diperlihatkan kembali kepada pelanggan.
- Desain
Pada proses Desain, dilakukan penerjemahan syarat kebutuhan sebuah perancangan perangkat lunak yang dapat diperkirakan sebelum dibuatnya proses pengkodean (coding). Proses ini berfokus pada struktur data, arsitektur perangkat lunak, representasi interface, dan detail algoritma prosedural.
- Pengkodean
Pengkodean merupakan proses menterjemahkan perancangan desain ke bentuk yang dapat dimengerti oleh mesin, dengan menggunakan bahasa pemrograman.
- Pengujian
Setelah Proses Pengkodean selesai, dilanjutkan dengan proses pengujian pada program perangkat lunak, baik Pengujian logika internal, maupun Pengujian eksternal fungsional untuk memeriksa segala kemungkinan terjadinya kesalahan dan memeriksa apakah hasil dari pengembangan tersebut sesuai dengan hasil yang diinginkan.
- Pemeliharaan
REPORT THIS AD
Proses Pemeliharaan erupakan bagian paling akhir dari siklus pengembangan dan dilakukan setelah perangkat lunak dipergunakan. Kegiatan yang dilakukan pada proses pemeliharaan antara lain :
- Corrective Maintenance : yaitu mengoreksi apabila terdapat kesalahan pada perangkat lunak, yang baru terdeteksi pada saat perangkat lunak dipergunakan.
- Adaptive Maintenance : yaitu dilakukannya penyesuaian/perubahan sesuai dengan lingkungan yang baru, misalnya hardware, periperal, sistem operasi baru, atau sebagai tuntutan atas perkembangan sistem komputer, misalnya penambahan driver, dll.
- Perfektive Maintenance : Bila perangkat lunak sukses dipergunakan oleh pemakai. Pemeliharaan ditujukan untuk menambah kemampuannya seperti memberikan fungsi-fungsi tambahan, peningkatan kinerja dan sebagainya.
- Contoh Penerapan dari Pengembangan Model Sekuensial Linear / Waterfall Development Model
Contoh dari penerapan model pengembangan ini adalah pembuatan program pendaftaran online ke suatu Instansi Pendidikan. Program ini akan sangat membantu dalam proses pendaftaran, karena dapat meng-efektifkan waktu serta pendaftar tidak perlu repot-repot langsung mendatangi Instansi Pendidikan. Teknisnya adalah sebagai berikut :
- Sistem program untuk pendaftaran dibuat menggunakan bahasa pemrograman PHP, dengan Sistem Database yang dibuat menggunakan MySQL, dan diterapkan (diaplikasikan) pada PC (personal computer) dengan sistem operasi berbasis Microsoft Windows, Linux, dan sebagainya.
- Setelah program selesai dibuat dan kemudian dipergunakan oleh user, programmer akan memelihara serta menambah atau menyesuaikan program dengan kebutuhan serta kondisi user.
- Kelebihan Model Sekuensial Linear / Waterfall Development Model :
- Tahapan proses pengembangannya tetap (pasti), mudah diaplikasikan, dan prosesnya teratur.
- Cocok digunakan untuk produk software/program yang sudah jelas kebutuhannya di awal, sehingga minim kesalahannya.
- Software yang dikembangkan dengan metode ini biasanya menghasilkan kualitas yang baik.
- Documen pengembangan sistem sangat terorganisir, karena setiap fase harus terselesaikan dengan lengkap sebelum melangkah ke fase berikutnya.
- Kekurangan Model Sekuensial Linear / Waterfall Development Model :
- Proyek yang sebenarnya jarang mengikuti alur sekuensial seperti diusulkan, sehingga perubahan yang terjadi dapat menyebabkan hasil yang sudah didapatkan tim pengembang harus diubah kembali/iterasi sering menyebabkan masalah baru.
- Terjadinya pembagian proyek menjadi tahap-tahap yang tidak fleksibel, karena komitmen harus dilakukan pada tahap awal proses.
- Sulit untuk mengalami perubahan kebutuhan yang diinginkan oleh customer/pelanggan.
- Pelanggan harus sabar untuk menanti produk selesai, karena dikerjakan tahap per tahap, dan proses pengerjaanya akan berlanjut ke setiap tahapan bila tahap sebelumnya sudah benar-benar selesai.
- Perubahan ditengah-tengah pengerjaan produk akan membuat bingung tim pengembang yang sedang membuat produk.
- Adanya waktu kosong (menganggur) bagi pengembang, karena harus menunggu anggota tim proyek lainnya menuntaskan pekerjaannya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar